Latest Entries »


      Buku yang berjudul “99 tips menjaga keharmonisan keluarga” adalah sebuah buku yang berisi tentang tips-tips sederhana yang dapat dilakukan bersama keluarga untuk menjaga keharmonisan keluarga dengan cara membangun komunikasi yang baik, lebih banyak melakukan kegiatan secara bersama-sama, memprioritaskan keluarga diatas kepentingan yang lain seperti pekerjaan kantor, mengajarkan pada seluruh anggota keluarga tentang pentingnya menghargai, menghormati, kejujuran dan kepercayaan serta menjalin hubungan yang romantis bersama pasangan.

Buku ini terbagi menjadi 11 bab, pada setiap bab terdapat poin-poin yang berbentuk tips ringan seputar hal-hal yang telah dijelaskan diatas. 11 bab tersebut antara lain:
1. Komunikasi
2. Teknologi
3. Makanan
4. Rekreasi
5. Pekerjaan
6. Keagamaan
7. Pendidikan
8. Kegiatan
9. Fasilitas
10. Hobi
11. Suasana romantis
Jika ditelaah dengan menggunakan teori Psikologi Keluarga, tips-tips yang terdapat pada buku ini memang sesuai untuk dijadikan sebagai sarana dalam menjaga kehangatan dan keharmonisan sebuah keluarga. Dalam bab 1 yang berisi tentang komunikasi, terdapat beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menjalin komunikasi yang baik dengan keluarga pada saat berada di rumah ataupun ketika ada salah satu anggota keluarga yang tidak berada di rumah. Bab ini berfokus pada pentingnya menjalin komunikasi antar anggota keluarga agar tidak terjadi kesalahpahaman dan membudayakan sifat saling keterbukaan. Dijelaskan pula bahwa sebelum melangsungkan pernikahan sepasang kekasih harus memiliki komitmen dalam berumahtangga. Komitmen dalam teori intimacy ada 2, yaitu interpersonal commitment dan personal bonding. Interpersonal commitment adalah komitmen yang dibuat oleh 2 orang yang akan menikahdan hanya untuk diketahui oleh mereka, misalnya hal-hal yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan setelah menjadi sepasang suami-istri. Sedangkan personal bonding adalah komitmen yang dibuat oleh kedua orang yang akan menikah dan diketahui oleh orang lain diluar mereka, seperti tanggal pernikahan, dan sebagainya.
Dalam bab 2 hingga bab 10 mencakup hal-hal yang dapat dilakukan bersama keluarga. Menurut penulis, mengutamakan kebersamaan dalam keluarga adalah kunci yang terpenting dalam membangun keharmonisan keluarga. Banyak menghabiskan waktu bersama-sama akan mempererat hubungan antar suami atau istri dan anak. Para ahli dalam psikologi keluarga setuju bahwa terdapat 3 dimensi utama dalam sistem keluarga (Olson & De Frain,2003), ketiga dimensi tersebut adalah cohesion, flexibility, dan communication. Cohesion adalah merasa dekat secara emosional dengan orang lain. Ada 4 level dalam dimensi cohesion, berdasarkan isi dari buku ini level cohesion yang terbaik adalah di level cohesive. Pada level ini dijelaskan bahwa sebuah keluarga disebut harmonis jika anggota keluarga lebih banyak menghabiskan waktu bersama daripada sendiri, kedekatan berada pada tingkatan menengah hingga tinggi, lebih banyak berbagi, dan sifat ketergantungan lebih besar daripada kemandirian pada tiap anggota keluarga. Meski demikian, dalam buku ini masih ditekankan bahwa setiap anggota keluarga tetap harus memiliki privasi dan anggota yang lain harus saling manghargai privasi yang dimiliki. Flexibility adalah jumlah perubahan yang terjadi dalam leadership, role relationship, dan relationship rules. Dalam dimensi ini juga terdapat 4 level, dalam buku ini sebuah keluarga dikatakan harmonis jika berada pada level flexible. Level ini memiliki ciri-ciri adanya intensitas yang sering dalam berbagi, demokratis dalam artian menghargai perbedaan pendapat, melakukan diskusi terbuka untuk menyelesaikan permasalahan dalam keluarga, peraturan bersifat fleksibel sesuai dengan kondisi dan kebutuhan setiap anggota keluarga, dan tidak menutup kemungkinan untuk adanya perubahan dalam hal peraturan di keluarga. Communication adalah dimensi terakhir dalam sistem keluarga, dimensi ini juga merupakan hal yang terpenting yang harus ada dan dijaga dalam membangun keharmonisan keluarga. Terdapat 3 level dalam dimensi ini, yaitu poor, good, dan very good. Komunikasi yang sangat baik adalah komunikasi yang dilakukan oleh beberapa orang dan saling menghasilkan umpan balik untuk lawan bicara, komunikasi yang dilakukan sebagai sarana untuk mengungkapkan apa yang dirasakan oleh individu pada anggota keluarga yang lain dengan harapan agar didengar dan memperoleh solusi untuk permasalahan yang sedang dihadapi, dan menyelesaikan sebuah topik hingga tuntas lalu kemudian baru beralih ke topik yang lain.
Dalam bab-bab diatas juga terdapat bahasan mengenai pentingnya pengaturan finansial dalam sebuah keluarga. Oleh penulis disarankan pada para pembaca untuk mengatur keuangan dalam keluarga dengan baik, menggunakan uang yang dimiliki oleh keluarga untuk hal-hal yang penting dan tidak membiasakan bergaya hidup boros, membuat daftar belanja barang-barang yang memang diperlukan, dan membuat skala prioritas untuk barang yang akan dibeli. Hal ini dimaksudkan agar keuangan dalam keluarga dapat diatur dengan baik dan tidak menimbulkan stress bagi anggota keluarga sehingga kehangatan dan keharmonisan dapat terus terjalin.
Sedangkan pada bab 11 adalah tips-tips yang dapat dilakukan oleh pasangan untuk tetap harmonis dalam sebuah hubungan pernikahan. Sesekali bersikap romantis pada pasangan dapat dijadikan sebagai sarana untuk menunjukkan rasa kasih sayang dan kepedulian terhadap pasangan. Selain itu hal ini juga dapat menghindarkan dari rasa kebosanan dalam pernikahan.


A. Profil Film
Judul                   : Realita, Cinta, dan Rock ‘n Roll
Tahun                 : 2006
Sutradara            : Upi Avianto
Film produksi     : Virgo Putra Film
  B. Sinopsis film
Film ini bercerita tentang perjalanan kehidupan dua remaja laki-laki yang bersahabat mereka berusia 17 tahun, nama keduanya adalah Nugi dan Ipang. Dua remaja laki-laki ini adalah sosok remaja yang bengal, tidak suka sekolah, dan pemberontak.
Nugi dan Ipang sangat mencintai musik. Mereka bermimpi suatu hari nanti menjadi salah satu band rock & roll terkenal. Mereka tidak suka sekolah karena mereka menganggap sekolah itu hanya membuang-buang waktu saja. Di sekolah mereka selalu mencari-cari alasan dan membuat kekacauan untuk tujuan agar tidak mengikuti pelajaran. Hidup itu mengalir saja buat mereka. Santai dan tanpa beban. Mereka juga sering membuat hal-hal gila yang spontan. Mereka juga mempunyai sahabat perempuan bernama Sandra, seorang penjaga distro yang cantik dan sering menjadi tempat curhat mereka. Nugi menyukai Sandra, tetapi perhatian Sandra justru jatuh pada Ipang yang lebih sering bersikap dingin padanya.
Nugi tinggal bersama ibunya yang single parent. Ibunya sudah bercerai dengan ayahnya sejak Nugi berumur 6 tahun dan sejak saat itu Nugi tidak pernah lagi bertemu sang ayah yang katanya tinggal di Amerika. Ayah Nugi dulu pernah jadi atlet taekwondo. Nugi tinggal di lingkungan ibunya yang bergaya hippies. Ibunya membuka praktek pengobatan holistic di rumahnya, yaitu jenis pengobatan dengan aroma therapy. Hubungan kedua orang ibu dan anak tersebut layaknya dua orang teman. Ibu Nugi bisa dibilang ibu yang unik, nyentrik dan cuek. Hanya saja Nugi tidak pernah bisa terima jika ibunya berhubungan dengan laki-laki lain. Nugi sangat tidak menyukai pacar ibunya yang bernama Paul, yang bergaya hippies dan juga merupakan salah satu pasien ibunya.
Sementara Ipang tinggal di lingkungan keluarga yang sangat mengutamakan pendidikan. Ayahnya seorang dosen dan ibunya juga aktif di kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan. Ipang mepunyai adik berumur 7 tahun, bernama Dido. Dido sangat memuja sang kakak. Sebaliknya Ipang walaupun suka jahil terhadap Dido, tapi sangat menyayanginya. Hubungan Ipang dengan ayahnya tidaklah harmonis. Ayahnya sangat tidak menyukai kegiatan nge-band yang Ipang lakukan bersama Nugi. Ayahnya lebih ingin Ipang mengutamakan sekolahnya.
Setelah kenakalan demi kenakalan mereka lakukan. Mereka dihadapkan pada realita yang sangat memukul mereka. Nugi harus menerima kenyataan bahwa ayahnya yang selama ini dirindukannya ternyata telah menjadi seorang transeksual. Ayahnya kini telah menjadi seorang perempuan dan membuka kursus salsa di rumahnya. Suatu hari ayah Nugi memintanya untuk tinggal dirumahnya. Nugi bersedia tapi ia ingin pergi bersama Ipang. Pada awalnya mereka tampak canggung jika harus melihat ayah Nugi yang seorang laki-laki namun berdandan dan berperilaku seperti perempuan. Nugi tidak begitu saja dapat menerima kenyataan itu, hingga akhirnya ayahnya memberi pengertian pada Nugi hingga ia mengerti mengapa ayahnya harus menjadi seperti demikian dan mereka tetap dapat hidup berdampingan.
Sementara Ipang baru menyadari bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari keluarganya, melainkan di adopsi dari bayi. Hal ini membuat jiwanya amat terguncang dan ia memutuskan untuk pergi dari rumah yang selama ini ia tinggali. Dido merasa sangat sedih dengan kepergian kakaknya yang ia sayangi. Namun, ia tidak dapat mencegahnya dan akhirnya Ipang tetap meninggalkan rumah.
Konflik demi konflik bermunculan dari realita yang mereka hadapi, salah satunya adalah konflik antar mereka karena Sandra. Hingga mereka bermusuhan dan tidak lagi menjadi teman.
Film ini menggambarkan bagaimana dua orang remaja cowok yang masih labil, dengan berjuta mimpi, dan merasa bahwa dunia berada dalam genggaman tangan mereka, dan kini mereka harus berhadapan dengan realita yang ada.
C. Analisis Film
Dalam film ini digambarkan ada 2 macam jenis keluarga dari kedua tokoh utama, Nugi dan Ipang. Kedua keluarga ini masing-masing memiliki pola pengasuhan dan konflik yang ditimbulkan juga berbeda dari keduanya.
Untuk keluarga yang pertama yaitu keluarga Nugi. Keluarga ini adalah jenis keluarga the single-parent family (keluarga duda atau janda), yaitu keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah atau ibu) dengan anak, hal ini terjadi biasanya melalui proses perceraian, kematian dan ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan). Dalam film ini dikisahkan bahwa orangtua Nugi bercerai sejak Nugi berusia 6 tahun. Sejak saat itu ia hanya tinggal bersama ibunya yang terbilang cuek dalam mengasuh anak. Ia lebih menempatkan dirinya sebagai seorang teman bagi anaknya dan cenderung membiarkan Nugi melakukan apapun yang diinginkan. Pola asuh seperti ini menurut Baumrind (dikutip oleh Wawan Junaidi, 2010) disebut pola asuh permisif. Pola asuh ini memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat, sehingga seringkali disukai oleh anak.
Pola perilaku orangtua Nugi adalah submission (penyerahan), dimana perilaku orangtua selalu memberi sesuatu yang diminta anak dan membiarkan anak berperilaku semaunya sendiri (Syamsu, 2009). Hal ini dimungkinkan terjadi karena ibu mengalami depresi karena perceraian dan harus merawat anak seorang diri. Selain itu ia juga harus memenuhi kebutuhan keluarga seorang diri sehingga disibukkan dengan pekerjaan dan tidak terlalu mengurusi anak. Tugas seorang ayah juga menjadi tugas seorang ibu dalam keluarga ini. Sehingga karena pola asuh yang demikian maka anak menjadi tidak patuh, tidak bertanggung jawab, agresif dan teledor, bersikap otoriter, dan terlalu percaya diri. Hal ini dapat tercermin dari perilaku Nugi ketika di sekolah, ia suka membolos, membuat onar, membuat kekacauan dengan tujuan agar tidak mengikuti pelajaran. Kepercayaan dirinya yang tinggi juga tercermin dari sikapnya yang sangat yakin bahwa band-nya akan menjadi band rock & roll yang besar dan terkenal, meskipun kualitas musikalitas mereka tidak bisa dibilang bagus. Nugi juga sosok remaja yang labil dan tidak mudah menerima realita. Ia tidak suka pada kekasih ibunya dan ia selalu marah jika lelaki tersebut datang ke rumah. Hal ini juga tampak saat ia harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ayahnya adalah seorang transeksual. Ia tidak mudah menerima kenyataan tersebut dan memilih untuk memberontak walau pada akhirnya ia mau menerima kondisi ayahnya yang demikian.
Sedangkan pada keluarga yang kedua yaitu keluarga Ipang. Jenis keluarga ini adalah the nuclear family (keluarga inti), yaitu keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak. Dalam film ini diceritakan bahwa keluarga Ipang adalah sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan 2 orang anak laki-laki. Kasih sayang dan perhatian sepenuhnya dicurahkan kepada anak. Namun, pola asuh orangtua sifatnya adalah otoriter dimana pola asuh ini cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Orang tua tipe ini cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya (Baumrind dikutip oleh Wawan Junaidi, 2010).
Pola perilaku orangtua Ipang adalah punitiveness atau overdiscipline (terlalu disiplin) dimana perilaku orangtua adalah mudah memberikan hukuman dan menanamkan kedisiplinan sangat keras. Hal ini sangat terlihat terutama pada perilaku ayah terhadap Ipang. Ayahnya lebih mengutamakan pendidikan anak sehingga Ipang dituntut untuk selalu serius dalam belajar dan menjadi anak yang rajin. Karena pola asuh yang demikian tidak lantas membuat Ipang senantiasa menjadi anak yang penurut seperti keinginan orangtuanya. Namun ia justru menjadi seorang remaja pemberontak dan seringkali menentang keinginan dan pemikiran dari orangtuanya. Ia lebih menginginkan kebebasan dalam menentukan jalan hidupnya sehingga yang tergambar dalam film ini profil tingkahlaku anak cenderung impulsif, tidak dapat mengambil keputusan, nakal, sikap bermusuhan atau agresif. Sehingga karena inilah konflik dalam keluarga seringkali terjadi, terutama antara ayahnya dan Ipang. Hingga pada akhirnya Ipang memutuskan untuk pergi dari rumah karena merasa bukan bagian dari anggota keluarga. Sebab ia hanya anak adopsi dan ia merasa hidupnya terkekang di rumah tersebut. Walau akhirnya ia kembali ke keluarga tersebut dan tetap menjadi anggota keluarga itu.
Dari uraian diatas dapat saya simpulkan bahwa pola pengasuhan pada anak harus didasarkan pada kebutuhan dan perkembangan anak. Karena jika tidak, maka anak akan cenderung berperilaku negatif dan tidak kooperatif dengan orangtua. Setiap anggota keluarga baik suami, istri, dan anak harus mengetahui fungsi dan peranan masing-masing di dalam sebuah keluarga. Hal ini dimaksudkan agar tercipta sebuah keluarga yang harmonis dan keutuhan keluarga tersebut dapat terus terjaga.

Sumber Referensi:
http://profilku-dayat.blogspot.com/2010/11/fungsi-keluarga-definisi-keluarga.html (diakses tanggal 7 April 2012 pukul 09.18 WIB).
http://dr-suparyanto.blogspot.com/2010/07/konsep-pola-asuh-anak.html (diakses tanggal 7 April 2012 pukul 10.12 WIB).
Junaidi, W. 2010. Macam-Macam Pola Asuh Orang Tua. Dari Http: http://www.blogspot.com. Diakses tanggal 22 Maret 2010.
Syamsu, Y. 2009. Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.


Film yang berjudul I Am Sam bercerita tentang seorang ayah yang mengalami retardasi mental. Ia memiliki seorang putri yang berusia 7 tahun bernama Lucy. Meski telah menginjak usia dewasa, namun karena gangguan yang dialaminya ia berpikir dan bertingkah laku seperti anak yang masih berusia 7 tahun. Hal ini menyebabkan petugas sosial di tempat mereka tinggal menganggap bahwa Sam tidak dapat menjadi ayah yang baik bagi Lucy dan seharusnya Lucy dirawat oleh orang tua angkat yang dapat melindunginya dan menjadi orang tua yang baik untuk perkembangannya. Karena rasa cinta dan kasih sayangnya pada Lucy, Sam berusaha untuk mendapatkan kembali hak asuh atas Lucy dan tetap tinggal bersama Lucy. Ia harus berjuang di pengadilan untuk membuktikan dan meyakinkan pihak pengadilan serta petugas sosial bahwa ia dapat menjadi ayah yang baik.
Dalam film ini, tokoh Sam adalah seseorang yang sedag berada pada tahapan dewasa awal karena ia berada pada rentangan usia antara 20-40 tahun. Jika dilihat dari segi fisiknya, Sam memiliki postur tubuh seperti yang dimiliki orang dewasa pada umumnya. Dari pertumbuhan fisik, menurut Santrock (1999) diketahui bahwa dewasa muda sedang mengalami peralihan dari masa remaja untuk memasuki masa tua. Pada masa ini, seorang individu tidak lagi disebut sebagai masa tanggung (akil balik), tetapi sudah tergolong sebagai seorang pribadi yang benar-benar dewasa (maturity). la tidak lagi diperlakukan sebagai seorang anak atau remaja, tetapi sebagaimana layaknya seperti orang dewasa lainnya. Penampilan fisiknya benar-benar matang sehingga siap melakukan tugas-tugas seperti orang dewasa lainnya, misalnya bekerja, menikah, dan mempunyai anak. la dapat bertindak secara bertanggung jawab untuk dirinya ataupun orang lain (termasuk keluarganya). Segala tindakannya sudah dapat dikenakan aturan-aturan hukum yang berlaku, artinya bila terjadi pelanggaran, akibat dari tindakannya akan memperoleh sanksi hukum (misalnya denda, dikenakan hukum pidana atau perdata). Masa ini ditandai pula dengan adanya perubahan fisik, misalnya tumbuh bulu-bulu halus, perubahan suara, menstruasi, dan kemampuan reproduksi. Yang dapat membuktikan bahwa Sam memiliki perkembangan fisik yang sesuai dengan seharusnya adalah ia dapat memiliki seorang putri meskipun bukan merupakan hasil dari pernikahannya dengan seorang wanita. Wanita yang ia hamili bukan seorang wanita yang baik sehingga ia meninggalkan Sam dan anaknya sesaat setelah melahirkan.
Kemudian saya akan membahas dari segi kognitif tokoh Sam. Menurut teori yang dikemukakan oleh Piaget (dalam Grain, 1992; Miller, 1993; Santrock, 1999; Papalia, Olds, & Feldman, 1998), kapasitas kognitif dewasa muda tergolong masa operational formal, bahkan kadang-kadang mencapai masa post-operasi formal (Turner & Helms, 1995). Taraf ini menyebabkan, dewasa muda mampu memecahkan masalah yang kompleks dengan kapasitas berpikir abstrak, logis, dan rasional. Namun tidak demikian yang terjadi pada Sam. Karena ia mengalami retardasi mental, maka perkembangan kognitif Sam tidak sama dengan perkembangan yang terjadi pada orang normal. Ia memiliki intelegensi yang setara dengan anak usia 7 tahun. Memang benar dia telah mampu merawat diri sendiri, sudah dapat dididik, secara fisik tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan orang normal, hanya saja dia memiliki kekurangan dalam koordinasi, kekuatan dan cara berbicara lambat dan kurang jelas. Ia masih berada pada tahapan operasional konkret, dimana ia hanya mampu menyelesaikan permasalahan yang bersifat konkret. Untuk menyelesaikannya pun ia harus dibantu oleh orang normal. Ia masih belum mampu menyelesaikan permasalahan yang sifatnya abstrak. Sehingga hal inilah yang menyebabkan petugas sosial di tempat ia tinggal memaksanya untuk melepaskan anaknya agar dirawat oleh keluarga lain, keluarga normal yang sama dengan putrinya. Mereka mengkhawatirkan jika Lucy tetap tinggal dengan Sam maka ia tidak dapat berkembang dengan baik terutama dari kognitifnya. Karena Lucy akan semakin bertambah dewasa namun tidak demikian dengan Sam. Kognitifnya akan berkembang namun hal tersebut akan terjadi dengan sangat lambat dibandingkan dengan Lucy. Meski demikian, Sam merupakan seseorang yang sangat mematuhi peraturan. Saat ia tidak diperbolehkan untuk menemui Lucy maka ia melakukan hal tersebut meski sebenarnya ia sangat ingin bertemu putrinya tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kognitif Sam bukan berarti tidak dapat berfungsi dan berkembang sama sekali meskipun ia mengalami retardasi mental.
Mereka yang berada pada masa dewasa akan menindaklanjuti hubungan dengan pacarnya (dating), untuk segera menikah agar dapat membentuk dan memelihara kehidupan rumah tangga yang mandiri, yakni terpisah dari kedua orang tuanya. Di dalam kehidupan rumah tangga yang baru inilah, masing-masing pihak baik laki-laki maupun wanita dewasa, memiliki peran ganda, yakni sebagai individu yang bekerja di lembaga pekerjaan ataupun sebagai ayah atau ibu bagi anak-anaknya. Seorang laki-laki sebagai kepala rumah tangga, sedangkan seorang wanita sebagai ibu rumah tangga, tanpa meninggalkan tugas karier tempat mereka bekerja. Dalam film ini yang terjadi adalah Sam telah memiliki seorang anak, namun anak tersebut bukanlah hasil dari sebuah ikatan pernikahan. Ia memiliki anak dari seorang wanita tidak baik yang hanya memanfaatkannya yang kemudian pergi meninggalkannya sendiri dalam merawat anak. Ia bekerja di sebuah kafe dan dapat menghasilkan uang sendiri. Orang-orang yang berada di tempat ia bekerja sangat menghargai Sam dengan kekurangan yang dimiliki. Ia diberikan kepercayaan untuk melakukan pekerjaan di tempat tersebut dan melayani pelanggan tanpa harus khawatir Sam akan merusak segalanya. Pelanggan juga sangat menghargai Sam, hal ini dibuktikan bahwa mereka memberikan pujian pada Sam jika ia melakukan hal yang benar dan membalas setiap yang dilakukan Sam dengan senyuman. Ia juga memiliki teman-teman yang baik, mereka juga termasuk ke dalam kategori orang yang mengalami gangguan seperti Sam. Namun pertemanan mereka patut diacungi jempol karena mereka terlibat dalam komunikasi dan intensitas pertemuan yang cukup intens. Mereka juga saling bertukar pikiran mengenai permasalahan yang mereka alami. Sehingga dapat dikatakan perkembangan psikososial Sam masih dapat berkembang dengan baik meskipun ia mengalami retardasi mental. Bukti lainnya ialah kemampuannya untuk mendapatkan seorang pengacara meskipun tidak mudah dan membutuhkan banyak pengorbanan untuk membantunya memperjuangkan hak asuh atas putrinya. Hubungan dengan Lucy pun juga menunjukkan bahwa ia dapat menjadi ayah yang baik meskipun tidak sempurna seperti ayah yang lain. Ia sangat menyayangi Lucy dan ingin selalu berada di dekat Lucy. Sampai pada akhirnya karena usahanya yang sangat keras ia memenangkan sidang dan dapat hidup bersama Lucy kembali.
Sumber:

http://qalbinur.wordpress.com/2008/03/27/periodisasi-perkembangan-masa-dewasa-awal/


M adalah seorang remaja yang masih berusia 12 tahun, baru saja masuk ke SMP. Saat masih SD ia memiliki banyak teman karena ia tergolong siswa yang pandai dan mudah bergaul. Selama 6 tahun bersekolah ia menjadi terbiasa untuk dikenal oleh banyak teman bahkan guru. Sampai ketika ia masuk SMP ia menemui banyak teman dengan berbagai tipe, kelas sosial, dan gaya hidup. Sejak kecil orang tua M mengajarkan padanya tentang kesederhanaan, hidup hemat, dan ikhlas menerima keadaan yang dialami.
Namun sayangnya, setelah ia bertemu dengan teman-teman yang pola asuh dari orang tuanya berbeda akhirnya ia terjerumus karena ingin menjadi anggota dalam kelompok pertemanannya. Ia memiliki teman-teman yang senang sekali menghambur-hamburkan uang untuk keperluan yang tidak begitu penting. Seperti membeli pakaian, pergi ke restoran mahal, dan membeli barang-barang yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Uang saku yang diberikan oleh orang tuanya setiap hari habis dan tidak ada lagi uang untuk menabung. Bahkan akhirnya ia selalu merasa kekurangan dan meminta uang tambahan pada orang tuanya.
Orang tua M tidak pernah memberi setiap kali M meminta uang untuk keperluan yang kurang jelas tujuannya, hingga kemudian saat M benar-benar menginginkan sebuah benda maka ia pun mulai memakai uang yang semula diberikan untuk membayar SPP ia gunakan untuk membeli barang tersebut. Hal itu ia lakukan hanya semata-mata karena ingin menjadi sama dengan teman-temannya dan karena ia takut dikatakan ketinggalan jaman oleh teman-temannya. Setelah ia mendapatkan benda yang ia inginkan, ia tidak berhenti sampai disitu memakai uang SPP untuk kesenangannya. Ia menjadi ketagihan hingga akhirnya uang SPP selalu habis untuk membeli sesuatu yang tidak penting. M selalu berbohong setiap kali ditanya oleh orang tuanya perihal pembayaran SPP.
Hingga pada akhirnya menjelang Ujian Akhir Semester (UAS), semua kebohongannya terbongkar karena ia tidak bisa mengikuti ujian karena belum membayar uang SPP. Orang tuanya mengerti kalau uang SPP yang selama ini diberikan pada M tidak pernah dibayarkan oleh M selama 5 bulan terakhir. Orang tuanya marah besar pada M, M diminta untuk menjelaskan bahwa uang SPP tersebut ia gunakan untuk apa. Setelah tahu apa penyebabnya, akhirnya orang tua M menasehati M kalau hal yang telah ia lakukan adalah hal yang buruk. Hal tersebut juga berakibat buruk pada gaya hidupnya, kebiasaannya, serta sekolahnya. Orang tua M memintanya agar tidak mengulangi hal serupa di kemudian hari. Akhirnya M sadar lalu meminta maaf pada orang tuanya dan berjanji untuk tidak lagi menggunakan uang SPP untuk keperluan yang tidak penting.
Kasus diatas seringkali terjadi pada saat peralihan antara masa anak-anak ke masa remaja dan tidak hanya terjadi pada satu orang saja. Kebutuhan untuk bisa menjadi sama dengan teman sebaya adalah faktor utama penyebab terjadinya hal tersebut. Mereka masih egosentris atau memikirkan dirinya sendiri tanpa berpikir ulang bahwa hal yang mereka lakukan sebenarnya merugikan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Pemikiran mereka masih berada pada tahapan operasional konkret, sehingga mereka belum mampu berpikir jauh ke depan mengenai apa yang akan terjadi jika mereka melakukan suatu hal. Menurut Erikson, pada usia tersebut manusia berada pada tahapan identitas vs difusi yaitu identitas atau kebingungan identitas. Seperti yang terjadi pada M, saat itu ia mengalami hal tersebut. Ia masih mengalami kebingungan tentang identitasnya. Dahulu saat masih SD ia dibiasakan untuk berhemat dan hidup sederhana, namun setelah masuk SMP ia berusaha membaur dengan teman-temannya dengan meninggalkan kebiasaan berhemat dan hidup sederhana.
Saat seusia M tersebut, remaja memiliki 7 kebutuhan khas menurut Garrison. Dalam 7 kebutuhan tersebut ada 2 kebutuhan yang dominan pada diri M, yaitu (1) kebutuhan akan keikutsertaan dan diterima dalam kelompok serta (2) kebutuhan akan pengakuan dari orang lain, bergantung hubungan dan penerimaan teman sebaya. Ia sangat ingin diterima dalam kelompok pertemanannya, sehingga ia berusaha untuk menjadi sama dengan teman-temannya meskipun sebenarnya ia bukan orang yang seperti itu. Sehingga berdasarkan kasus yang dialami oleh M, orang tua sangat berperan penting dalam pergaulan remaja seusia M. Karena mereka masih tidak dapat mengontrol diri dan mengendalikan emosi. Sehingga dibutuhkan orang sebagai pendamping agar remaja tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang salah. Pengawasan dari orang tua dan guru terhadap setiap kegiatan dan pemikiran anggota dalam kelompok pertemanan juga sangat dibutuhkan. Hal ini diperlukan untuk meluruskan persepsi remaja agar remaja dapat membedakan antara yang benar dan yang salah.

ANALISIS FILM “GRIDIRON GANG”


       Masa remaja adalah fase yang pasti dilewati oleh setiap individu. Menurut Piaget, pada masa ini terjadi perkembangan kognitif dari tahapan operasional konkret ke operasional formal. Sebagai pemikiran yang abstrak, remaja mengembangkan gambaran keadaan yang ideal. Mereka dapat berpikir seperti apakah orangtua yang ideal dan membandingkan orang tua mereka dengan standar ideal yang mereka miliki. Mereka mulai mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan bagi masa depan dan terkagum-kagum terhadap apa yang mereka lakukan. Dalam film ini, seharusnya para remaja ini juga harus sudah berada pada tahapan operasional formal. Namun, pada kenyataannya mereka masih belum mengetahui antara hal yang benar dan salah. Mereka masih senang berbuat semau mereka sendiri yang penting mereka senang. Seperti misalnya mencuri, merusak fasilitas umum, berkelahi, atau bahkan membunuh. Mereka masih seperti berada pada tahapan operasional konkret karena posisi mereka saat itu memang berada di masa transisi dari masa kanak-kanak ke dewasa.

      Satu tanda pertama dari remaja awal adalah munculnya reflektivitas, kecenderungan untuk berpikir tentang apa yang sedang berkecamuk dalam benak sendiri dan mengkaji diri sendiri. Remaja mudah dibuat tidak puas oleh diri mereka sendiri. Sehingga berusaha untuk menemukan identitas yang menjadi keinginan mereka atau yang ideal. Untuk melakukan hal tersebut remaja memerlukan sosok yang dapat menjadi pembimbing agar dapat menemukan identitas yang sesuai dengan keinginannya. Harus ada yang meluruskan kemana arah yang benar untuk menjadi diri yang ideal sesuai keinginan mereka dan orang lain. Di film ini, untuk remaja yang bermasalah tersebut mereka dikirim ke sebuah penjara agar mereka dapat dididik dan diubah menjadi individu yang baik dan dapat bermanfaat bagi diri mereka sendiri atau orang lain. Dalam penjara ini mereka diharuskan untuk mematuhi peraturan yang ada dan berusaha untuk merubah perilaku yang buruk. Ini adalah salah satu contoh dari pelurusan persepsi agar berpengaruh pada tindakan. Agar pemikiran atau tindakan yang buruk dapat berubah menjadi hal yang positif. Mereka dibentuk menjadi sebuah tim yang harus kompak, saling memahami, dan dapat saling bekerja sama. Akhirnya terbentuklah sebuah tim football atas usul dari seorang petugas di penjara tempat mereka berada.

      Pada umumnya, remaja perlu melakukan eksperimen dan tetap luwes apabila mereka harus berhasil menemukan identitas mereka sendiri. Dengan mencoba cara-cara yang mungkin, kemudian menguji dan memodifikasi cara-cara itu, remaja dapat memetik karakteristik yang paling tepat dan menyisihkan yang lain. Untuk melakukan ini, remaja itu harus memiliki rasa percaya diri untuk bereksperimen dan menyatakan suatu eksperimen selesai, untuk mengubah perilaku, dan meninggalkan karakteristik-karakteristik yang tidak cocok, meskipun jika karakteristik-karakteristik itu didukung oleh orang lain. Ini membantu mendapatkan penerimaan yang stabil dari orang tua, guru, dan teman sebaya, yang akan menanggapi secara positif eksperimentasi remaja. Setelah masuk ke dalam tim football, mereka dapat mengembangkan potensi yang tertanam di dalam diri mereka. Karena bimbingan dan pengaruh dari pelatih football, mereka yang awalnya hanya mengerti tentang kekerasan, kebencian, dan kegiatan yang negatif akhirnya mereka dapat mengubah pemikiran dan perilaku mereka untuk menjadi positif. Pada saat bermain football mereka diharapkan dapat mematuhi peraturan dalam permainan, tata cara bermain, saling bekerja sama dan saling mendukung. Akhirnya, mereka dapat melakukan hal itu dan mendapatkan penerimaan yang positif dari orang lain seperti keluarga, teman, bahkan orang yang dulu bermusuhan.

      Identitas diri merupakan sebuah terminologi yang cukup luas yang dipakai seseorang untuk menjelaskan siapakah dirinya. Identitas diri dapat berisi atribut fisik, keanggotaan dalam suatu komunitas, keyakinan, tujuan, harapan, prinsip moral atau gaya sosial. Meski seringkali terbentuk secara tidak sadar, namun identitas diri merupakan sesuatu yang disadari dan diakui individu sebagai sesuatu yang menjelaskan tentang dirinya dan membuatnya berbeda dari orang lain (Fearon, 1999, h.23). Pada awalnya tokoh Willie merupakan anggota dari sebuah komunitas atau kelompok yang sifatnya sangat mengikat. Ia menganggap bahwa itulah identitas dirinya yang sebenarnya karena merasa menjadi anggota dan keterikatan in-group. Sehingga hal ini berpengaruh pada keyakinan, tujuan, harapan, dan gaya sosial sebgai seorang remaja. Ia menjadi berpikiran bahwa ketika dia menjadi anggota gang, maka ia harus melakukan hal yang dilakukan oleh seluruh anggota gang. Ia merasa bahwa ia akan jadi bagian dari kelompok atau komunitas tersebut selamanya sehingga lebih terkesan cenderung pada fanatik.

      Selama masa remaja individu mulai merasakan suatu perasaan tentang kesadaran akan identitasnya sendiri, perasaan bahwa ia adalah identitas yang tersendiri, unik dan telah siap memasuki peranan yang berarti dalam masyarakat. Remaja mulai menyadari sifat-sifat yang melekat pada dirinya  sendiri, seperti aneka kesukaan dan ketidaksukaannya, tujuan yang dikejarnya di masa depan, serta hasrat untuk mengarahkan jalan hidupnya sendiri.  Daya penggerak internal dalam rangka pembentukan identitas  ialah ego dalam aspek yang sadar maupun tidak sadar. Pada tahap ini ego memiliki  dan mengintegrasikan bakat-bakat, kemampuan, dan keterampilan dalam mengidentifisikan dengan orang-orang yang dianggap berharga, adaptasi dengan lingkungan sosial. Ego juga dianggap mampu menjaga pertahanan internal terhadap berbagai ancaman dan kecemasan, karena telah mampu memutuskan impuls, kebutuhan dan peranan manakah yang paling cocok dan efektif. Ego bertugas mengintegrasikan semua komponen kepribadian dalam individu untuk membentuk identitas psikososial seseorang.  Persoalan yang dihadapi remaja pada masa ini kompleks, karena ego mengalami kesulitan untuk menyeimbangan berbagai tuntutan, harapan dan peran yang seringkali saling bertentangan. Di satu sisi remaja diharapkan mengasimilasikan diri ke dalam pola kehidupan orang dewasa, tapi di sisi lain remaja masih memiliki ketergantungan yang cukup besar pada orang dewasa  di sekitarnya dan kurang memiliki kebebasan untuk memutuskan sendiri pilihannya (Hall & Lindzey, 1993, h. 149-152). Namun, setelah mendapatkan arahan dari pelatih ia bisa mengubah dirinya menjadi lebih baik. Tetapi pada akhirnya ia juga mulai menyadari ketika ia merasa tertekan mengenai kebingungannya mengenai identitas. Ia merasa perubahan yang terjadi di dalam dirinya terjadi sangat cepat, ia tidak menginginkan perubahan. Namun ia juga tidak memungkiri bahwa perubahan perilakunya dapat berdampak positif pada kehidupannya. Disinilah peran egonya menjadi sangat besar. Sehingga karena hal inilah setelah keluar dari penjara para remaja ini telah dapat menentukan kehidupan yang lebih baik di luar sana.

      Berdasarkan karya Erikson, James Marcia (1980) mengidentifikasi empat status identitas melalui interview mendalam dengan remaja. Status ini mencerminkan tingkat komitmen yang dibuat remaja terhadap nilai-nilai agama dan politik di samping juga pekerjaan masa depan. Damon (1983) telah mengikhtisarkan empat status itu sebagai berikut.

  1. Pengalihan identitas (foreclosure): Individu dalam status pengalihan identitas tidak pernah mengalami krisis identitas. Mereka telah membentuk suatu identitas prematur lebih berdasarkan pilihan orang tua mereka daripada identitas mereka sendiri. Mereka telah membuat komitmen pekerjaan dan ideologi, tetapi komitmen ini lebih mencerminkan suatu penilaian tentang apa yang dapat dilakukan figur orang tua atau otoritas anak itu daripada suatu proses otonom anak dalam penilaian-diri. Ini merupakan suatu jenis “identitas-semu” yang pada umumnya terlalu dipaksakan dan kaku untuk difungsikan sebagai dasar menghadapi krisis hidup di masa depan.
  2. Kebingungan identitas (identity diffusion): Individu yang mengalami kebingungan identitas tidak menemukan arah pekerjaan atau komitmen ideologi yang mana pun, dan mencapai kemajuan kecil kearah tujuan-tujuan ini. Mereka kemungkinan telah mengalami krisis identitas, dan apabila benar, mereka tidak dapat mengatasinya.
  3. Moratorium: Individu yang berada dalam status moratorium adalah individu yang telah mulai melakukan eksperimen dengan pilihan-pilihan pekerjaan dan ideologi namun belum membuat komitmen pasti terhadap salah satu pilihan. Individu ini langsung berada di tengah-tengah suatu krisis identitas dan sedang mencari pilihan-pilihan hidup pengganti.
  4. Pencapaian identitas (identity achievement): Pencapaian identitas menandakan suatu status konsolidasi identitas. Pada tahap ini individu telah sadar akan dirinya sendiri, membuat keputusan-keputusan tegas tentang pekerjaan dan ideologi. Individu itu yakin bahwa keputusan-keputusan itu dibuat berdasarkan otonomi dan kebebasan serta komitmen internal yang dalam.

Dalam film ini tokoh Willie telah berada pada status pencapaian identitas (identity achievement). Karena pada awalnya ia mengalami krisis dalam menentukan identitas atau perilaku yang sesuai. Kemudian setelah mendapatkan bimbingan dari pelatih akhirnya ia dapat melewati krisis itu dan berhasil membuat komitmen dangan dirinya sendiri maupun orang lain untuk bisa menjadi lebih baik. Setelah ia menemukan konsep diri yang sesuai dengan keinginannya atau ideal, akhirnya mempunyai self esteem yang positif. Hal ini berpengaruh pada self efficacy yang dimiliki oleh Willie.

      Self efficacy adalah keyakinan bahwa seseorang mampu menghadapi situasi tertentu. Self efficacy tersebut mempengaruhi persepsi, motivasi dan tindakannya dalam berbagai cara (Zimbardo dan Gerrig, 1999). Schwarzer (Zimbardo dan Gerrig, 1999) mengatakan bahwa self efficacy mempengaruhi seberapa banyak usaha yang digunakan dan berapa lama seseorang dapat bertahan dalam mengatasi situasi kehidupan yang sulit. Disamping itu Kaplan, dkk (1993) menyebutkan self efficacy ini sebagai sebuah konsep yang bermanfaat untuk memahami dan memprediksi tingkah laku. Remaja yang memiliki self esteem positif, ia akan memiliki self efficacy seperti teori di atas. Dalam film ini setelah para remaja ini ditempa dalam sebuah tim football dan menemukan sosok atau figur yang dapat menjadi panutan bagi mereka maka mereka dapat mengembangkan self efficacy yang dimiliki. Hal ini tampak pada saat mereka berada pada pertandingan semi final, di babak pertama mereka mengalami kekalahan. Pada awalnya mereka sangat terpukul namun karena mereka sudah mulai membentuk self esteem yang positif maka akhirnya mereka dapat memotivasi diri mereka sendiri bahkan orang lain. Mereka menjadi optimis pada kemampuan mereka sendiri sehingga menghasilkan kemenangan.

Orangtua (ayah dan ibu) memegang  peranan dalam pembinaan kesejahteraan keluarga bersama secara fisik, materi, dan spiritual, serta meningkatkan kedudukan keluarga dalam masyarakat. Peran keluarga atau orangtua dalam perkembangan kedewasaan remaja untuk tumbuh normal dalam melakukan peran sertanya bermasyarakat. Kurangnya kontrol sosial keluarga pada anak yang menginjak dewasa (remaja) akan menyebabkan kesulitan seorang remaja dalam menemukan identitas sesungghunya (identity diffusion atau role confusion). Hal tersebut jika tidak disikapi dengan bijak akan membawa dampak negatif pada perilaku remaja. Hal ini sesuai dengan yang ada di dalam film. Orang tua Willie sangat berpengaruh pada perkembangan identitasnya. Karena ayah tirinya suka memukul ibu yang dicintainya hingga akhirnya ia merasa bahwa harus menjadi sosok yang keras agar dapat melindungi ibunya. Namun, hal ini berdampak negatif pada kehidupannya karena pada akhirnya ia membunuh ayah tirinya tersebut dengan maksud untuk melindungi ibunya dari kekerasan sang ayah.

Kriteria keluarga Willie termasuk dalam kriteria keluarga yang tidak sehat, menurut para ahli kriteria tersebut, antara lain:

  1. Keluarga tidak utuh (broken home by death, separation, divorce).
  2. Kesibukan orangtua, ketidakberadaan dan ketidakbersamaan orang tua dan anak di rumah.
  3. Hubungan interpersonal antar anggota keluarga (ayah-ibu-anak) yang tidak baik (buruk).
  4. Substitusi ungkapan kasih sayang orangtua kepada anak, dalam bentuk materi daripada kejiwaan (psikologis).

Keluarga Willie merupakan keluarga yang tidak utuh dimana orang tua bercerai dan ibunya menikah lagi dengan seorang laki-laki yang kasar. Sehingga hal ini berdampak pada hubungan interpersonal antar dirinya dengan ayah tirinya terjalin dengan buruk dan berpengaruh pada perilakunya.

Faktor kondisi lingkungan sosial yang tidak sehat atau “rawan”, juga dapat merupakan faktor yang kondusif bagi anak atau remaja untuk berperilaku menyimpang. Faktor kutub masyarakat ini dapat dibagi dalam 2 bagian, yaitu pertama faktor kerawanan masyarakat dan kedua faktor daerah rawan (gangguan kamtibmas). Kriteria dari kedua faktor tersebut, antara lain:

 a. Faktor Kerawanan Masyarakat (lingkungan)

1)      Tempat-tempat hiburan yang buka hingga larut malam bahkan sampai dini hari

2)      Peredaran alkohol, narkotika, obat-obatan terlarang lainnya

3)      Pengangguran

4)      Anak-anak putus sekolah atau anak jalanan

5)      Wanita tuna susila (WTS)

6)      Beredarnya bacaan, tontonan, TV, majalah, dan lain-lain yang sifatnya pornografis dan kekerasan

7)      Perumahan kumuh dan padat

8)      Pencemaran lingkungan

9)      Tindak kekerasan dan kriminalitas

10)  Kesenjangan sosial

 b. Daerah Rawan (gangguan kamtibmas)

1)      Penyalahgunaan alkohol, narkotika dan zat aditif lainnya

2)      Perkelahian perorangan atau berkelompok atau massal

3)      Kebut-kebutan

4)      Pencurian, perampasan, penodongan, pengompasan, perampokan

5)      Perkosaan

6)      Pembunuhan

7)      Tindak kekerasan lainnya

8)      Pengrusakan

9)      Coret-coret dan lain sebagainya

Dalam film ini tokoh Willie sangat dipengaruhi oleh lingkungannya sehingga melakukan perbuatan yang menyimpang. Terutama oleh tindak kekerasan dan kriminalitas serta perkelahian perorangan atau berkelompok atau massal. Sehingga akhirnya hingga berpengaruh negatif pada kognitif dan perkembangan identitasnya.

 

Sumber:

http://www.altavista.com/self-efficacy 2002 (diakses pada hari Selasa, 29 November 2011 pukul 11.13)

http://elearning.unesa.ac.id/myblog/alim-sumarno/perkembangan-identitasjati-diri-anak-masa-sekolah-menengah   (diakses pada hari Selasa, 29 November 2011 pukul 12.04)

http://www.psikologizone.com/teori-kognitif-psikologi-perkembangan-jean-piaget/06511234  (diakses pada hari Selasa, 29 November 2011 pukul 12.12)

http://sofia-psy.staff.ugm.ac.id/files/remaja_dan_permasalahannya.doc 11.59 (diakses pada hari Selasa, 29 November 2011 pukul 12.25)

http://Skripsi_Ninin_Kholida_Mulyono_(M2A_002_059).pdf(diakses pada hari Selasa, 29 November 2011 pukul 12.01)

 

 


BELAJAR. Apa yang pertama kali muncul di pikiran kita jika mendengar kata tersebut? Beberapa orang menjawab “sekolah”, beberapa lagi menjawab “buku”, dan bahkan beberapa orang lainnya menjawab “kegiatan yang membosankan”. Jawaban yang terakhir mungkin lebih banyak diucapkan oleh anak-anak. Karena pengalaman yang kemudian membentuk persepsi mereka bahwa belajar adalah kegiatan yang membosankan. Namun, sebenarnya hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Karena belajar adalah kegiatan yang tidak hanya dapat dilakukan disekolah saja, tetapi juga dapat dilakukan di rumah, di tempat bimbingan belajar, atau bahkan mungkin di taman bermain. Sarana atau media yang digunakan untuk belajarpun juga bermacam-macam tidak hanya buku. Film, alat permainan, atau game di komputer juga dapat menjadi media pembelajaran. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa belajar tidak harus monoton dan membosankan, tapi belajar dapat juga menjadi kegiatan yang menyenangkan jika metode dan pelaksanaannya sesuai dengan usia dan tugas perkembangan anak.

Disini saya akan membahas tentang perbedaan antara belajar dengan media film kartun dan belajar dengan media buku. Hal ini saya maksudkan sebagai perbandingan agar orangtua dan guru dapat memilih media yang tepat untuk pembelajaran yang menarik dan efektif bagi anak. Berikut ini adalah tabel analisisnya:

Kedua media diatas sangat tepat untuk sarana pembelajaran bagi anak usia pra sekolah (3-6 tahun). Karena content atau isi dari kedua media tersebut sesuai dengan tugas perkembangan anak usia pra sekolah. Anak usia tersebut telah dapat mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, dan psikososialnya dengan baik sesuai dengan teori dari Hurlock dan Frankenburg. Pengembangan kemampuan kognitif dan motorik (halus dan kasar) dapat dilakukan dengan kegiatan berhitung; mengenal huruf alphabet; mengenal bentuk; mengelompokkan warna; melakukan kegiatan fisik seperti menari, melompat, dan berjingkat; menghubungkan titik sehingga menjadi garis; menggunting objek; bercerita tentang sebuah gambar atau peristiwa untuk melatih kemampuan anak dalam berbahasa; serta mengenalkan Bahasa Inggris dan pelajaran agama. Sedangkan pengembangan kemampuan psikososial dapat dilakukan dengan belajar berkenalan; bermain dengan teman; mengajarkan perilaku membantu teman dan mengucapkan terima kasih; serta saling menyayangi. Hal-hal tersebut, semuanya telah terangkum dalam kedua media diatas. Oleh karena itulah saya mengatakan jika kedua media tersebut sudah tepat sasaran bagi pembaca/penonton, yaitu anak usia pra sekolah.

Meskipun kedua media tersebut baik bagi anak, namun keduanya sama-sama memiliki kekurangan disamping kelebihannya. Saya lebih menyukai media buku, media tersebut lebih fleksibel sebab dapat dibawa kemanapun dan kapanpun bisa menggunakannya dibandingkan dengan media film kartun yang hanya bisa dilihat jika ada pemutarnya. Namun jika dilihat dari segi penyampaian content, saya lebih menyukai film kartun. Karena tanpa bantuan dari orangtua/guru media tersebut tetap dapat menarik bagi anak dibandingkan dengan buku yang harus ada petunjuk dan bimbingan dari orangtua/guru. Tetapi, bagaimanapun juga proses/kegiatan belajar dari anak wajib ada pengawasan dari orangtua dan guru agar materi pembelajaran dapat lebih mengena untuk perkembangan kognitif, motorik, dan psikososial anak.

Tugas Kelompok bersama Hartini Dian Kartika-0911230015


Dalam film ini Ramona sedang malalui tahapan anak-anak akhir, usia 7-12 tahun. Periode ini merupakan periode integrasi yang bercirikan anak  harus berhadapan dengan berbagai macam tuntutan sosial seperti:

a) hubungan kelompok (keluarga, teman sekolah, persahabatan), dalam hubungan kelompok terutama dalam keluarga Ramona cukup baik. Karena ia dekat dengan ayah, ibu, bibi, adik, dan juga kakaknya. Meskipun ia sering bertengkar dan membuat mereka kerepotan namun hal itu ia lakukan semata-mata karena ingin tampak sebagai bagian dari kelompok dan dapat diterima di lingkungannya. Jika di sekolah meskipun teman-temannya selalu menganggap ia aneh dan senang berbohong karena daya imajinasinya, namun ia tetap berusaha menjadi wajar dengan cara memanfaatkan kelebihannya dalam hal berimajinasi yang ia tuangkan dalam sebuah karya lukisan. Hal ini merupakan alternatif yang Ramona lakukan untuk memenuhi tuntutan dalam hubungan kelompok. Ia juga belajar untuk setia kawan dan bekerja sama dengan sahabatnya, Howie Kemp.

b)prestasi di sekolah, tuntutan dalam hal ini sangat tampak ketika penerimaan raport Ramona merasa bahwa ia sudah menyelesaikan semua tugas sekolah dengan baik namun nilainya masih buruk dan tetap saja lebih rendah dari kakaknya Beezus. Ia dituntut untuk berprestasi di sekolah namun apa yang ia peroleh di sekolah tidak sesuai dengan kesenangannya dalam berimajinasi, sehingga nilainya tetap buruk karena ia tidak patuh dengan tuntutan dari sekolah yang sebenarnya tidak sesuai dengan keinginannya. Disini iabelajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif) sesuai dengan kemampuannya.

c)hubungan dengan dunia dewasa, dalam hal ini menurut saya Ramona terkadang cukup dewasa  meski ia melakukan kesalahan-kesalahan. Misalnya saat ia tahu ayahnya dipecat dari pekerjaan dan rumahnya akan dijual ia berusaha keras untuk mendapatkan uang agar keluarga mereka tidak merasa kekurangan dan tidak jadi menjual rumah mereka. Ia bersikap seperti orang dewasa yang memikirkan masalah keluarga dengan cara tidak selalu bergantung kepada orang dewasa. Selain itu ia juga berperan dalam membantu bersatunya hubungan antara Bibi Bea & Hobart.

sumber: http://indonesia-admin.blogspot.com/2010/02/perkembangan-psikososial-pada-masa-anak.html


sebelumnya sempat ingat kalau sudah punya blog. tapi lupa username dan password *hahaha, o’on sekali aku ini*. syukurlah kemudian ada tugas dari Bu Ari buat bikin blog. akhirnya ketemu sama kamu lagi niianya.wordpress.com *muaaah*. berawal dari iseng dan rasa penasaran, sekarang mau serius saja. semangat nge.blog to the max!! hahaeiy

belajar ngurus blog dulu, sedikit-sedikit lama-lama juga mahir. amiin. teman-teman yang sudah mahir mohon bantuannya yaa. biar gak dianggurin lagi blognya X) mohon bimbingannya …

selamat datang untuk diriku sendiri X’D

TOTALITAS TANPA BATAS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.